Berdasarkan rilis Data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Tahun 2025, Kota Metro mencatatkan capaian yang sangat membanggakan dengan skor 4,19 — tertinggi di Provinsi Lampung. Capaian ini melampaui Kota Bandar Lampung (4,14) serta jauh di atas rata-rata nasional (3,50). Dengan hasil ini, Metro resmi memosisikan diri sebagai benchmark pembangunan daerah di Provinsi Lampung.
Kompetitif Kota Metro terlihat sangat kuat pada beberapa pilar utama. Pilar Adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (5,00) menunjukkan bahwa Metro telah bertransformasi menjadi Digital Hub dengan infrastruktur dan literasi digital masyarakat pada level tertinggi.
Pilar Pasar Produk (5,00) juga menegaskan efisiensi pasar serta aksesibilitas barang dan jasa yang sangat baik, memperkuat posisi Metro sebagai kota jasa dan perdagangan. Selain itu, Pilar Dinamika Bisnis (4,86) menunjukkan kultur kewirausahaan yang sehat dan kemudahan berusaha yang hampir menyentuh skor sempurna.
“Namun demikian, capaian ini tidak membuat kita lengah. Terdapat beberapa catatan kritis yang menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Metro.
Pertama pada Pilar Infrastruktur (3,36), skor Metro berada di bawah rata-rata Provinsi Lampung (3,51) dan di bawah Kabupaten Lampung Selatan (3,71). Ini menjadi sinyal bahwa kualitas infrastruktur dasar seperti jalan, drainase, air bersih, dan fasilitas publik perlu mendapat perhatian lebih serius, terutama dalam konteks pemeliharaan dan peningkatan kualitas.
Kedua, Pilar Kapabilitas Inovasi (3,67) menunjukkan bahwa meskipun dinamika bisnis tinggi, kemampuan menghasilkan inovasi baru dan penguatan riset serta pengembangan (R&D) masih perlu ditingkatkan. Metro sudah unggul dalam perdagangan, namun ke depan harus bertransformasi menjadi kota yang juga kuat dalam menciptakan produk dan teknologi baru.
Ketiga, pada Pilar Pasar Tenaga Kerja (3,52), Metro masih berada di bawah Bandar Lampung (3,97). Hal ini mengindikasikan adanya potensi ketidaksesuaian antara ketersediaan tenaga kerja terampil dengan kebutuhan dunia usaha.
Kepala Bappeda Kota Metro mengatakan, berdasarkan kondisi tersebut, arah kebijakan pembangunan Kota Metro ke depan akan difokuskan pada tiga strategi utama, Urban Regeneration (Revitalisasi Infrastruktur).
Pemerintah Kota akan memprioritaskan audit menyeluruh terhadap infrastruktur perkotaan, dengan fokus pada peningkatan kualitas, konektivitas, dan keberlanjutan. Pembangunan tidak lagi sekadar ekspansi fisik, tetapi peningkatan mutu layanan dasar seperti jalan kota, drainase, dan sistem air minum.
“Selanjutnya, transformasi dari kota perdagangan menuju kota inovasi. Dengan kekuatan pada adopsi TIK dan dinamika bisnis, Metro akan mendorong pembentukan ekosistem inovasi melalui pengembangan science and techno park, co-working space, serta kolaborasi aktif dengan perguruan tinggi. Targetnya, Metro tidak hanya menjadi pusat distribusi, tetapi juga pusat produksi inovasi daerah,” papar Yeri.
Sedangkan untuk, Optimalisasi Tenaga Kerja Terampil melalui Program Link and Match.
Dengan skor tinggi pada Pilar Keterampilan (4,43), Metro memiliki modal manusia yang kuat. Pemerintah akan memperkuat sinergi antara SMK, perguruan tinggi, dan pelaku usaha agar tercipta keselarasan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.
Dalam menanggapi hal ini, Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso mengatakan, capaian IDSD 2025 ini bukanlah garis akhir, melainkan pijakan awal untuk lompatan pembangunan yang lebih terarah, inklusif, dan berkelanjutan.
“Kota Metro akan terus berbenah, memperkuat keunggulan, serta menutup celah kelemahan, demi mewujudkan Metro sebagai kota modern, kompetitif, dan inovatif di tingkat nasional,” ungkap Bambang. (Sr)

