Gerakan Pramuka tidak sekadar menjadi wadah pembinaan keterampilan dan kedisiplinan, tetapi juga memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berintegritas, serta memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial. Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 tingkat Kecamatan Metro Barat yang berlangsung di Lapangan Mulyosari, Jumat (6/11/2026).
Peringatan yang berlangsung khidmat tersebut tidak hanya diisi dengan kegiatan kepramukaan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi kepedulian sosial berupa penyaluran 20 paket sembako kepada masyarakat di empat kelurahan wilayah Kecamatan Metro Barat. Kegiatan ini menjadi representasi bahwa nilai-nilai kepramukaan harus hadir melampaui seremoni, melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Metro, Kak Drs. Ahmad Hariyanto, M.M., dalam amanatnya menegaskan bahwa kualitas generasi hebat tidak semata-mata ditentukan oleh deretan prestasi, kemampuan baris-berbaris, ataupun banyaknya tanda kecakapan yang disematkan pada seragam. Lebih mendasar dari itu, generasi unggul adalah generasi yang memiliki karakter kuat dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan menekankan tiga fondasi karakter yang harus menjadi identitas setiap insan Pramuka, yakni patriotisme, kegigihan, dan empati.
Ahmad Hariyanto menggarisbawahi bahwa patriotisme tidak boleh berhenti pada simbol dan slogan kebangsaan atau mengibarkan bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta menghafalkan Pancasila merupakan bagian penting dari pendidikan kebangsaan, tetapi kecintaan terhadap tanah air harus dibuktikan melalui perilaku konkret.

“Patriotisme juga dapat diwujudkan dengan saling menjaga kebersihan lingkungan, menghormati keberagaman, merawat persatuan, membantu sesama, serta menghindari tindakan perundungan merupakan bentuk sederhana dari patriotisme yang harus dibiasakan sejak dini,” ungkapnya.
Menurutnya, tidak selayaknya seseorang mengaku mencintai Indonesia apabila masih mengabaikan lingkungan dan merendahkan orang lain. Sebab, nasionalisme sejati justru tumbuh dari kesadaran untuk menjaga, menghargai, dan memberikan kontribusi positif terhadap kehidupan bersama.
Dalam konteks tersebut, ia turut mengapresiasi peran para pembina Pramuka yang konsisten melakukan pembinaan terhadap anak-anak sejak usia dini. Masa golden age dipandang sebagai fase penting untuk menanamkan nilai-nilai positif, membangun kebiasaan baik, serta membentuk fondasi kepribadian yang akan melekat hingga mereka memasuki usia dewasa.
“Karakter kedua yang menjadi penekanan adalah kegigihan, karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan ekspektasi. Kegagalan dalam perlombaan, hasil belajar yang belum memuaskan, maupun berbagai hambatan dalam proses meraih cita-cita merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang harus dihadapi dengan ketangguhan,”pungkasnya.
Pendidikan kepramukaan, menurutnya, mengajarkan bahwa setiap kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk belajar, mengevaluasi diri, dan memperbaiki kekurangan serta mengilustrasikan filosofi tersebut melalui aktivitas kepramukaan.

“Ketika simpul tali belum sempurna, seorang Pramuka harus kembali belajar. Ketika tenda belum berdiri kokoh, mereka harus memperbaikinya. Begitu pula ketika mengalami kegagalan, keberanian untuk bangkit dan mencoba kembali merupakan sikap yang harus terus dipelihara, “terangnya.
Pesan tersebut juga menegaskan bahwa kehebatan seseorang bukan diukur dari ketiadaan kegagalan, melainkan dari keteguhan hati untuk bangkit, bertahan, dan terus berproses menghadapi tantangan.
Sementara itu, karakter ketiga yang mendapat perhatian khusus adalah nilai empati tengah kehidupan modern, ketika setiap orang semakin mudah menyampaikan komentar dan penilaian, kepekaan untuk memahami serta merasakan kondisi orang lain justru menjadi nilai yang harus semakin diperkuat.
Sebagai Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Metro, ia mengajak seluruh anggota Pramuka untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar, membantu teman yang mengalami kesulitan, menghargai perbedaan, serta tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan ejekan maupun hinaan.
Menurutnya, seorang Pramuka tidak cukup hanya memiliki kekuatan fisik dan keberanian, tetapi juga harus mempunyai kelapangan hati untuk menguatkan sesama. Kepedulian sederhana, seperti menanyakan keadaan teman yang sedang menghadapi persoalan, dapat menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.
“Nilai empati tersebut juga menemukan relevansinya melalui penyaluran 20 paket sembako kepada masyarakat di empat kelurahan Kecamatan Metro Barat. Aksi sosial ini menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui amanat, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, “paparnya.

Lebih lanjut, Ahmad Hariyanto mengingatkan agar Pramuka tidak dipersempit maknanya hanya sebagai kegiatan baris-berbaris, berkemah, atau sekadar mengenakan seragam cokelat. Pramuka merupakan ruang pendidikan karakter yang membentuk kemampuan seseorang untuk memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
“Di dalamnya terdapat pembelajaran mengenai tanggung jawab, kemandirian, kedisiplinan, keberanian, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial, “ungkapnya.
Untuk itu, ia berharap Gerakan Pramuka di Kecamatan Metro Barat terus berkembang menjadi wadah pembinaan generasi muda yang berkarakter, berprestasi, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Kecamatan Metro Barat menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan kepramukaan tidak cukup diukur dari kemeriahan kegiatan maupun jumlah peserta yang hadir. Ukuran yang lebih substansial terletak pada sejauh mana nilai-nilai kepramukaan mampu membentuk perilaku, memperkuat integritas, dan melahirkan kepedulian sosial, “katanya.

Selain itu, patriotisme harus tercermin dalam kecintaan terhadap bangsa dan lingkungan. Kegigihan harus menjadi landasan dalam menghadapi setiap tantangan. Sementara empati harus diwujudkan melalui kesediaan untuk membantu dan menguatkan sesama.
“Sebab, hakikat Pramuka bukan sekadar tentang seragam yang dikenakan, melainkan tentang karakter yang dibangun, nilai yang diperjuangkan, dan pengabdian yang diberikan kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.(Yl/Ag/Sr)

