Semangat literasi kembali menggema dalam gelaran “Nongki” atau Nongkrong Literasi ke-7 yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispustakarda) Kota Metro yang berlangsung di Taman Merdeka Kota Metro, Minggu (01/03/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi para pegiat literasi untuk berbagi pengalaman, gagasan, dan praktik baik dalam membangun budaya baca dan tulis di tengah masyarakat.
Sekretaris Dispustakarda Kota Metro, Fitri Luthfiana Immawati, menyampaikan bahwa Nongki merupakan wadah sinergi seluruh penggerak literasi se-Kota Metro, dimana Dispustakarda hadir sebagai fasilitator yang menghimpun berbagai entitas untuk bersama-sama mendorong tumbuhnya literasi.

“Nongki ini adalah hasil kolaborasi seluruh penggerak literasi. Kami di dinas hanya sebagai fasilitator untuk menyinergikan gerakan agar literasi di Kota Metro terus berkembang,” ujar Fitri dalam sambutannya.
Fitri juga menjelaskan bahwa pada gelaran kali ini, Dispustakarda Kota Metro menghadirkan 2 narasumber yaitu Camat Metro Barat yang juga merupakan Bunda Literasi Kecamatan Metro Barat, Risfania, serta Rosiana Putri yang merupakan pengelola Perpustakaan Kelurahan Tejo Agung yang berprestasi di tingkat nasional.
“Selain itu, kita juga menghadirkan Kepala SMP Muhammadiyah 4 Metro, Agus Pujianto, untuk berbagi kisah inspiratif tentang gerakan menulis buku di lingkungan sekolahnya yang telah menorehkan prestasi nasional,”tuturnya.

Fitri mengungkapkan bahwa Nongki yang sudah gelaran ke-7 kali ini, Awalnya hanya merupakan kegiatan ngobrol santai, tapi karena dilakukan secara konsisten, akhirnya menjadi gerakan yang berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya kesinambungan kegiatan agar literasi tidak sekadar seremoni sehingga dapat menghasilkan perubahan besar. “Meskipun kecil, kalau kita lakukan terus-menerus, insyaallah dampaknya akan besar bagi masyarakat Kota Metro,” tambah Fitri memberi semangat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak Kelurahan se-Kecamatan Metro Barat dan Camat Metro Barat atas dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.

Sementara itu Kepala Sekolah Muhammadiyah 4 Metro (SMP Mudipat) Agus Pujianto, menyebut bahwa pada 16 Februari lalu SMP Mudipat berhasil meraih medali emas juara 1 tingkat nasional kategori best practice kepala sekolah berprestasi di Makassar, Sulawesi Selatan yang tidak lepas dari komitmen kuat dalam membangun gerakan literasi di sekolah.
“Mudipat itu bisa diartikan mudah dan dipercepat. Kami punya komitmen bahwa semua urusan, termasuk literasi, harus mudah dan dipercepat,” jelas Agus.
Ia menanamkan keyakinan bahwa setiap anak adalah emas, memiliki potensi dan kompetensi yang dapat dikembangkan, termasuk literasi melalui kreativitas dalam keterbatasan, sehingga tidak ada alasan untuk tidak bisa atau tidak mungkin.
“Karya yang bagus itu adalah karya yang jadi, bukan karya yang hanya ideal tapi sebatas angan-angan,” tegasnya.
Salah satu wujud nyata gerakan tersebut adalah buku antologi berjudul Alkisah “Empat Sekawan” karya guru dan siswa SMP Mudipat yang telah diserahkan kepada Sekretaris Dispustakarda.
Tak hanya Empat Sekawan, SMP Muhammadiyah 4 Metro sebelumnya juga telah terbit buku antologi berjudul “Angka” karya siswa Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang berhasil meraih juara 1 tingkat Kota Metro pada 2025 dalam lomba yang digelar MGMP.Sebagai Kepala Sekolah, Agus juga menulis buku berjudul “Bangkit Dari Keterpurukan dengan Semangat Berhasil” sebagai refleksi semangat tumbuh dan berkembang.
“SMP Mudipat juga menerbitkan Movement Magazine ( Majalah Penggerakan) yang telah terbit empat edisi dan telah meraih dua kali meraih medali perunggu tingkat nasional dalam Olimpiade Ahmad Dahlan di Semarang dan Makassar,” paparnya.
Bahkan di bidang sinematografi, film pendek karya siswa juga pernah meraih medali perunggu tingkat nasional, memperkuat literasi sebagai roh pembelajaran di sekolah tersebut. “Kalau ingin maju dan membuka cakrawala berpikir, literasi adalah kuncinya,” pungkas Agus.

Sementara itu, Camat Metro Barat yang juga Bunda Literasi Kecamatan Metro Barat, Risfania, mengaku senang dapat hadir dalam Nongki untuk pertama kalinya sejak menjabat sebagai camat yang memiliki empat kelurahan yakni Mulyojati, Ganjar Agung, Ganjar Asri, dan Mulyosari, yang seluruhnya telah memiliki perpustakaan kelurahan aktif.
Dahulu, kata dia, perpustakaan kelurahan dikenal sebagai rumah pintar dan belum terdapat struktur Bunda Literasi seperti sekarang, namun kini pengurus perpustakaan telah di-SK-kan oleh lurah dan dipilih dari warga yang memiliki kemauan serta inovasi dalam mengelola perpustakaan.
“Kalau hanya ditunjuk tapi tidak mau bergerak dan berinovasi, itu akan sia-sia. Perpustakaan harus hidup dan menarik,” ujarnya.

Ia berharap dengan dibentuknya struktur Bunda Literasi di setiap perpustakaan kelurahan tidak hanya sekadar membuka layanan, tetapi menghadirkan program kreatif agar anak-anak dan masyarakat tertarik berkunjung.
Risfania juga mengapresiasi Mas Jarwo, pegiat literasi dari Kelurahan Ganjar Asri, yang menghadirkan dongeng serta kursus Bahasa Lampung dan Bahasa Inggris di perpustakaannya.
“Saya berharap praktik baik tersebut dapat ditularkan ke seluruh kelurahan, sehingga semangat literasi di Metro Barat dan Kota Metro kian menyala dan berkelanjutan, “ungkapnya. (Yl/Sr)

