Djohan Hadiri Pelantikan Maporina dan Panen Ikan Lele Secara Bioflock

Wakil Walikota Metro Djohan hadiri pelantikan pimpinan daerah Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Kota Metro periode 2020-2021 dan panen perdana budidaya ikan lele secara bioflock di Gedung Sinode GKSBS setempat, Rabu (11/03/2020).

Djohan menyampaikan terima kasihnya kepada pengurus Yayasan Bina Mandiri (YABIMA) Kota Metro yang telah mengelola bantuan dari pemerintah pusat dengan baik.

“Bantuan hibah ini terdiri dari 10 unit kolam bioflock, benih lele 30.000 ekor beserta pakan, rumah kolam, dan beberapa peralatan, serta bahan-bahan untuk mewujudkan program Pemerintah Pusat dalam rangka Budidaya Ikan Lele. Sehingga pada kesempatan ini dapat dilakukannya panen perdana budidaya ikan lele secara bioflock,” papar Djohan.

Sementara Ketua PD Maporina Kota Metro Muda’i Yunus, menyampaikan tekatnya untuk kemajuan dalam meningkatkan elektabilitas Maporina Kota Metro, sehingga dapat meningkatkan usaha mandiri bersama kelompok tani.

“Maporina menjadi alat perjuangan pertanian di Kota Metro. Salah satunya dengan konsep Urban Farming yaitu mandiri pangan yang sehat, ekologis dan sejahtera. Konsep ini akan kita kembangkan pada kelompok-kelompok tani,” jelas Muda’i Yunus.

Kegiatan yang bertemakan “Gerakan Isi Piringku Ada di Halamanku adalah Konsep Urban Farming untuk mandiri Pangan yang Sehat, Ekologis dan Sejahtera” ini dihadiri Kepala OPD, Yayasan Bina Mandiri Kota Metro, PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) Kota Metro. (Ins/Ian).

Sebanyak 135 Koperasi di Kota Metro Mati Suri

Dari sebanyak 339 koperasi di Kota Metro, yang kedapatan mati suri 135. Hal itu terungkap di sela pelatihan sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan tentang Perkoperasian, di Lec Kartikatama, Rabu (11/03/2020).


Menurut Kabid Dinas Koperasi, UMK, UM dan Perindustrian Widiyarti Handayani mendampingi Siti Aisyah Kepala Dinas Koperasi, UMK, UM dan Perindustrian mengatakan bagi koperasi yang mati dilakukan pembubaran koperasi, baik oleh pemerintah maupun oleh koperasi itu sendiri. Sedangkan untuk koperasi yang mati suri tapi masih dapat dibina, dilakukan pendampingan dan penyuluhan pelaksanan RAT.

“Bagi koperasi yang benar mati dan juga mati suri akan dibina dilakukan pendampingan penyuluhan pelaksanaan RAT,” tandas Widiyarti.

Sementara Siti Aisyah mengatakan, keberadaan koperasi saat ini memang sangat diperlukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat menengah kebawah. Dengan koperasi masyarakat bisa mengembangkan usahanya, tanpa harus terjerat rentenir.


Berdasarkan pantauan tim Diskominfo, Siti Aisyah berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kepercayaan, baik internal maupun eksternal. Seperti halnya pemerintah, lembaga keuangan, serta pihak ketiga yang berminat melakukan kemitraan dan menanamkan investasinya pada usaha koperasi (Bank/Kreditor).


“Saya mengharapkan peserta dapat memanfaatkan kesempatan dengan baik, untuk memperdalam pengetahuan dan pemahaman mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkoperasian,” ucapnya. (nv/in)